Selasa, 15 Juni 2010

SURAT CINTA ROMAN CINTA

pabila cinta memanggilmu... ikutilah dia walau jalannya berliku-liku... Dan, pabila sayapnya merangkummu... pasrahlah serta menyerah, walau pedang tersembunyi di sela sayap itu melukaimu..." (Kahlil Gibran)

"...kuhancurkan tulang-tulangku, tetapi aku tidak membuangnya sampai aku mendengar suara cinta memanggilku dan melihat jiwaku siap untuk berpetualang" (Kahlil Gibran)

"Tubuh mempunyai keinginan yang tidak kita ketahui. Mereka dipisahkan karena alasan duniawi dan dipisahkan di ujung bumi. Namun jiwa tetap ada di tangan cinta... terus hidup... sampai kematian datang dan menyeret mereka kepada Tuhan..." (Kahlil Gibran)

"Jangan menangis, Kekasihku... Janganlah menangis dan berbahagialah, karena kita diikat bersama dalam cinta. Hanya dengan cinta yang indah... kita dapat bertahan terhadap derita kemiskinan, pahitnya kesedihan, dan duka perpisahan" (Kahlil Gibran)

"Aku ingin mencintaimu dengan sederhana... seperti kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu... Aku ingin mencintaimu dengan sederhana... seperti isyarat yang tak sempat dikirimkan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada..." (Kahlil Gibran)

"Jika cinta tidak dapat mengembalikan engkau kepadaku dalam kehidupan ini... pastilah cinta akan menyatukan kita dalam kehidupan yang akan datang" (Kahlil Gibran)

"Apa yang telah kucintai laksana seorang anak kini tak henti-hentinya aku mencintai... Dan, apa yang kucintai kini... akan kucintai sampai akhir hidupku, karena cinta ialah semua yang dapat kucapai... dan tak ada yang akan mencabut diriku dari padanya" (Kahlil Gibran)

"Kemarin aku sendirian di dunia ini, kekasih; dan kesendirianku... sebengis kematian... Kemarin diriku adalah sepatah kata yang tak bersuara..., di dalam pikiran malam. Hari ini... aku menjelma menjadi sebuah nyanyian menyenangkan di atas lidah hari. Dan, ini berlangsung dalam semenit dari sang waktu yang melahirkan sekilasan pandang, sepatah kata, sebuah desakan dan... sekecup ciuman" (Kahlil Gibran)

sumber: blogmutiara kata- kata
by: latifatul khasanah

Minggu, 06 Juni 2010

Supaya Hidup Mendapat Berkah

Pengertian berkan adalah tumbuh dan bertambah tetapi secara istilah artinya yaitu kebaikan yang bertambah. Supaya mendapat berkah maka kita perlu melakukan hal-hal dibawah ini :

1. Mengokohkan iman dan takwa, ini merupakan syarat mutlak agar mendapat berkah.
Cara memelihara iman yaitu mengikat janji dengan Alloh SWT, optimalisasi ibadah, muhasabah dan memberi sanksi terhadap diri sendiri jika melakukan kesalahan, sedangkan cara mempertahankan iman yaitu dengan beramal sholeh. Q.S An Nahl : 97.

2. Bersyukur. Bersyukur dengan hati, lisan dan anggota badan. Q.S Ibrahim:7 dan Q.S An Nisa:147

3. Memperbanyak Istigfar. Dengan memperbanyak istigfar maka hidup akan bahagia, jika ada persoalan akan mudah menemukan jalan keluarnya, dan mendapat rejeki yang barakah.

4. Silaturahmi (menyambung kasih sayang)

5. Mencintai orang-orang miskin dan lemah

6. Memperbanyak infaq dan shadaqah

7. Jujur, berkata benar bukan berkata apa adanya (polos)

8. Qana’ah, jiwa yang bersih

9. Aktivitas apapun disertai dengan doa (Q.S Al Baqarah : 186)

(sumber : USt. Achmad Khumaedi, Majelis Percikan Iman, Minggu, 5 April 2009) dan Pengertian berkan adalah tumbuh dan bertambah tetapi secara istilah artinya yaitu kebaikan yang bertambah. Supaya mendapat berkah maka kita perlu melakukan hal-hal dibawah ini :

1. Mengokohkan iman dan takwa, ini merupakan syarat mutlak agar mendapat berkah.
Cara memelihara iman yaitu mengikat janji dengan Alloh SWT, optimalisasi ibadah, muhasabah dan memberi sanksi terhadap diri sendiri jika melakukan kesalahan, sedangkan cara mempertahankan iman yaitu dengan beramal sholeh. Q.S An Nahl : 97.

2. Bersyukur. Bersyukur dengan hati, lisan dan anggota badan. Q.S Ibrahim:7 dan Q.S An Nisa:147

3. Memperbanyak Istigfar. Dengan memperbanyak istigfar maka hidup akan bahagia, jika ada persoalan akan mudah menemukan jalan keluarnya, dan mendapat rejeki yang barakah.

4. Silaturahmi (menyambung kasih sayang)

5. Mencintai orang-orang miskin dan lemah

6. Memperbanyak infaq dan shadaqah

7. Jujur, berkata benar bukan berkata apa adanya (polos)

8. Qana’ah, jiwa yang bersih

9. Aktivitas apapun disertai dengan doa (Q.S Al Baqarah : 186)

(sumber : USt. Achmad Khumaedi, Majelis Percikan Iman, Minggu, 5 April 2009)dan Blog punya Winda.

by: Latifatul khasanah

Islam Agamaku, Jilbab Identitasku

Jacques Chirac bikin ulah. Pasalnya, doi merestui lahirnya undang-undang larangan penggu-naan simbol-simbol keagamaan di sekolah negeri atau sarana umum dalam pidatonya pada tanggal 17 Desember 2003. Walhasil, kerudung dan jilbab, topi bundar khas Yahudi (yarmelke), dan tanda salib besar nggak boleh beredar di negeri sekular dengan jumlah penduduk muslim sekitar 5 juta orang ini.

Malah doi mengatakan secara khusus kalo penggunaan jilbab merupakan bentuk agresi. �Mengenakan kerudung, apakah disengaja atau tidak, adalah merupakan jenis agresi yang sulit bagi kami untuk menerimanya,� cetus Chirac ketika berlangsung pertemuan dengan para mahasiswa di Pierre Mendes France School di ibukota Tunisia Sabtu (6/12/2003). ( Eramus-lim.com, 08/12/2003 )

Nggak heran kalo protes terhadap kebijakan Perancis ini mengalir deras bak air bah dari berbagai belahan dunia; mulai dari London, Paris, Lebanon, sampai Indonesia.

Cuma masalahnya, apa iya jilbab itu cuma simbol doang seperti penilaian mereka? Atau ada udang di balik bakwan atas pelarangan resmi penggunaan jilbab yang lagi rame ini?

Benih kebencian kaum kufar

Sobat muda muslim, tindakan diskrimi-nasi kaum kufar terhadap kaum Muslim sudah sering terjadi. Kali ini kasus pelarangan jilbab di beberapa negara sekular kembali menghiasi media massa. Meski banyak menuai protes, Perancis tetep keukeuh mengatakan negaranya kudu bebas dari simbol keagamaan macam jilbab. Padahal katanya mereka menjunjung tinggi kebebasan menjalankan ajaran agama bagi para pemeluknya. Weh, ini mah sama aja menjilat ludah sendiri. Iih..jijay deh.

Tapi sayang, mereka antimalu. Itu sebabnya, pola standar ganda diberlakukan untuk mendiskriminasikan dan menjauhkan kaum Muslim dari ajaran Islam. Persis aturan kakak kelas pada saat OSPEK siswa baru. Pasal 1: Kakak kelas selalu benar. Pasal 2: jika kakak kelas berbuat kesalahan, lihatlah pasal 1!

Untuk kasus jilbab, orang-orang kafir sampe bela-belain pake wewenang negara untuk melegalisasi larangan penggunaan jilbab. Seperti halnya Perancis, Presiden Jerman, Johannes Rau juga melarang guru Muslimah mengenakan jilbab saat mengajar (jangan-jangan mereka kebingungan juga bedain kerudung ama jilbab?). Oke deh, kita sebut saja pakaian muslimah.

Di Belgia, Menteri Dalam Negeri Patrick Dewael menegaskan keinginannya untuk melarang kerudung dan jilbab serta simbol-simbol agama lainnya tampil di sekolah dan institusi-institusi milik pemerintah sebagai-mana hal itu diterapkan Perancis. ( Eramus-lim.com , 12/01/2004).

Di Australia, salah seorang anggota parleman dari Partai Demokratik Kristen, Reverend Fred Nile mengusulkan pelarangan terhadap pemakaian penutup aurat dan jilbab bagi warga muslim di Aus-tralia, khususnya di New South Wales (21/11/2002) silam. Menurutnya, dengan pakaian itu bisa dimungkin-kan sebagai kedok para teroris menyimpan bahan peledak atau bom. ( Hidaya-tullah.com , 22/11/2002). Ini namanya paranoid atuh euy!

Sementara di Singa-pura, PM Lee Hsien Loon �anak dari Lee Kuan Yew, pendiri Singapura Modern� mengatakan dalam harian Berita Harian Malay, edisi 1 Desember 2003, bahwa pelarangan memakai jilbab termasuk dalam upaya perukunan dan penyempur-naan kehidupan masyarakat di Singapura. ( Eramus-lim.com, 09/12/2003 ).

Nggak cukup dengan kekuatan negara, pihak sekolah pun bikin larangan serupa. Seper-ti yang terjadi pada Lila dan Alma Levy yang diusir dari sekolah Henri Wallon yang berlokasi di daerah pinggiran utara Aubervilliers, Paris. Kebijakan itu diambil pihak sekolah dengan alasan kedua siswi berjilbab itu mengenakan pakaian �yang memamerkan ekstrimitas agama�. Muslimah itu bisa masuk mengikuti pelajaran di kelasnya, jika mereka mencopot hijabnya. ( Eramuslim.com , 26/09/2003).

Sobat muda muslim, dari paparan fakta di atas, tentu kita sependapat dan tidak ragu dengan kebenaran filman Allah:

�Tidak akan pernah ridha kepada engkau kaum Yahudi dan Nashrani hingga engkau mengikuti golongan (millah) mereka.� (QS al-Baqarah [2]: 120).

Jilbab bukan semata simbol keagamaan

Jacques Chirac boleh aja menganggap topi bundar Yahudi, atau tanda Salib sebagai simbol keagamaan yang bisa aja sembarangan dilepas. Tapi jilbab, nggak lah yauw!

Dalam al-quran surat an-N�r [24]: 31 dan Surat al-Ahzab [33]: 59 Allah telah memerin-tahkan dengan tegas, bahwa muslimah yang sudah aqil baligh (berakal sehat alias nggak gila dan sudah menstruasi) untuk mengenakan jilbab jika keluar rumah. Kewa-jibannya sama dengan perintah shalat lima waktu. Itu artinya, kalo nggak dikerjain, ya dosa. Sumpe lo!

Kewajiban ini juga dikuatkan oleh penuturan Ummu �Athiyah : �Rasulu-llah saw telah memerin-tahkan kepada kami untuk keluar (menuju lapangan) pada saat Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha; baik wanita tua, yang sedang haid, maupun perawan. Wanita yang sedang haid menjauh dari kerumunan orang yang shalat, tetapi mereka menyaksikan kebaikan dan seruan yang ditujukan kepada kaum Muslim. Aku lantas berkata, �Ya Rasulullah saw, salah seorang di antara kami tidak memiliki jilbab. �Beliau kemudian bersabda, �Hendaklah salah seorang saudaranya meminjamkan jilbabnya.�

Dari hadits ini ada 2 point pemahaman yang bisa diambil. Pertama , semua muslimah disunnahkan untuk menghadiri sholat Idhul Adha, tapi harus memakai jilbab. Ditegaskan bahwa jika ada yang tidak memiliki jilbab, maka temannya harus meminjamkannya. Berarti jilbab itu wajib dipakai ketika keluar rumah.

Kedua , hadits di atas menyiratkan tentang jilbab adalah pakaian luar yang dikenakan wanita di atas pakaian kesehariannya (yang biasa digunakan di dalam rumah). Karena ketika Ummu �Athiyah bertanya tentang seseorang yang tidak memiliki jilbab, tentu wanita tersebut bukan dalam keadaan telanjang, melainkan dalam keadaan memakai pakaian yang biasa dipakai di dalam rumah yang tidak boleh dipakai untuk keluar rumah. Dan wanita yang tidak mempunyai jilbab harus meminjam kepada saudaranya. Jika saudaranya tidak bisa meminjamkannya, maka yang bersangkutan tidak boleh keluar rumah.

Dari uraian hadits di atas, kita bisa simpulkan kalo jilbab itu bukan cuma simbol, melainkan kewajiban. Jadi nggak ada yang bisa nyuruh ngelepasin kalo lagi di luar rumah. Walaupun dilegalisasi UU Negara atau peraturan sekolah. Karena tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Allah. Setuju kan? Siip dah!

Melengkapi pengertian khimar dan jilbab

BTW, udah pada tahu kan seperti apa khimar dan jilbab yang syar’i itu? Bukannya kita meragukan, cuma kita takut masih ada yang keliru memahaminya. Soalnya ada yang memahami busana muslimah untuk di luar rumah itu asal menutup aurat. Pake kerudung yang dipadukan tangtop, kaos panjang plus celana jeans ketat. Kayak gitu mah pantasnya cuma di depan suami euy. Hehehe…

Ada juga yang memadukan kerudungnya dengan baju atas panjang nan longgar, dan bagian bawah berupa rok panjang atau celana panjang longgar yang biasa disebut kulot. Kita nggak menyalahkan, cuma ada baiknya kita sama-sama mencari tahu definisi jilbab itu secara syar’i. Oke?

Dalam kitab al-Mu’jam al-Wasith halaman 128, jilbab diartikan sebagai �Ats tsaubul musytamil �alal jasadi kullihi� (pakaian yang menutupi seluruh tubuh), atau � Ma yulbasu fauqa ats tsiyab kal mil-hafah� (pakaian luar yang dikenakan di atas pakaian (rumah), seperti milhafah /baju terusan), atau � al-Mula`ah tasytamilu biha al mar`ah� (pakaian luar yang digunakan untuk menutupi seluruh tubuh wanita).

Dari keterangan hadits yang diriwayatkan Ummu �Athiyah dan pengertian dalam kamus al-Mu’jam , ternyata yang maksud jilbab adalah kain terusan (dari kepala sampai bawah) (Arab: milhafah-mula`ah ) yang dikenakan sebagai pakaian luar (di bawahnya masih ada pakaian rumah) lalu diulurkan ke bawah hingga menutupi kedua kakinya. Selain itu, jilbab juga harus terbuat dari kain yang tidak transparan dan tidak menampakkan lekuk tubuh.

Adapun khimar , syariat telah mewajibkan kerudung atau apa saja yang serupa dengannya yang berfungsi menutupi seluruh kepala, leher, dan 3 lubang baju di dada. Semoga pengertian ini bisa menambah wawasan biar nggak misspersepsi . Maksud hati menutup aurat, ternyata belum sempurna. Sayang kan?

Tunjukkin identitas kita!

Bener sobat, kita kudu berani tunjukkin identitas kita sebagai muslim dan muslimah. Ngikutin aturan Allah dalam setiap perbuatan maupun omongan yang keluar dari mulut kita. Nggak usah ragu bin malu. Kita kudu takut ama Allah dalam menjalankan perintah manusia, jangan ngeper ama manusia dalam menjalankan perintah-Nya. Oke?

Tata cara berpakaian seseorang menjadi salah satu identitas yang paling gampang diliat. Untuk yang satu ini, udah pasti seorang muslimah akan selalu menjaga kehormatannya dengan balutan busana yang menutup aurat nan sempurna. Di tengah hantaman badai trend fashion yang serba terbuka, full fresh body dan irit bahan, dia tetep PD mengenakan khimar dan jilbab di tempat-tempat umum seperti di sekolah, kampus, pasar, kantor, pabrik, di jalanan, de el el.

Cemoohan, kata-kata sinis, atau pelecehan sering menghampiri sodari kita hanya karena mereka berjilbab. Bahkan sampai diskriminasi berkedok undang-undang negara dan peraturan sekolah. Nggak sedikit sodari kita yang tetep istiqomah harus mengalami PHK dari tempatnya bekerja, skorsing, termasuk pengusiran oleh pihak sekolah.

Tapi jangan takut, Allah akan membayar mahal untuk keisti-qomahan mereka dan setiap muslimah yang mengikuti jejaknya. Sabda Nabi saw.: �Sesung-guhnya di belakang kalian ada hari-hari yang memerlukan kesabaran. Kesabaran pada masa-masa itu bagaikan memegang bara api. Bagi orang yang mengerjakan suatu amalan pada saat itu akan mendapatkan pahala lima puluh orang yang mengerjakan semisal amalan itu. Ada yang berkata,’Hai Rasululah, apakah itu pahala lima puluh di antara mereka ?� Rasululah saw. menjawab,�Bahkan lima puluh orang di antara kalian (para shahabat).� ( HR Abu Dawud, dengan sanad hasan )

Sobat muda muslim, mari kita sama-sama mengokohkan keistiqomahan kita dengan aturan Allah. Caranya? Bisa dimulai dengan mengkondisikan lingkungan sekitar kita. Bergaul dengan teman-teman yang mampu mengingat-kan kita saat lengah, memperdalam Islam melalui kajian rutin, ber- taqarrub ilallah dengan ibadah wajib dan sunnah, serta berdoa agar Allah memberikan kekuatan kepada kita untuk tetep stay tune dengan aturan-Nya sampai ajal menjemput.

Tak lupa juga untuk gencar berdakwah demi tegaknya khilafah yang akan melindungi Islam dan kaum Muslim di seluruh dunia dari makar musuh-musuh Islam.

Oya, kini muslimah SMU kelas tiga diperbolehkan menggunakan foto berkerudung siswi SMU untuk dipajang di STTB yang sebelumnya sering jadi masalah. Kebolehan ini tertuang dalam Surat Edaran Nomor: 1177/C/PP/2002 yang ditandatangani Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Indra Djati Sidi. ( smu-net.com , 09/02/2004).

Buat remaja muslimah, �Maju terus pan-tang mundur!� Serukan dengan lantang: �Islam agamaku, Jilbab identitasku!� [hafidz]

sumber: blog2insan.com

By: latifatul Khasanah

Jumat, 04 Juni 2010

mAyat mAyat Cinta

Pancaran mentari tlah menyentuh
Membangkitkan jiwaku yang luluh
Tuk menggapai cinta nan luhur
Cinta yang disertai syukur

Ku tak ingin hidup terhina
Di atas cinta berselimut hawa
Ku ingin cinta nan mulia
Di atas ketundukan pada Sang Pencipta

Ku tak ingin cintaku ternoda
Ternoda oleh balutan hawa
Terkotori oleh nafsu dunia

Bak mayat yang berjalan
Bergerak, tapi tak punya tujuan
Terkekang tali-tali setan

Sumber: blog. kumpulan puisi cinta gmail.com
By: Latifatul khasanah

Kamis, 03 Juni 2010

Membekali Diri Dengan Tauhid

Pengertian Tauhid

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin –rahimahullah- memaparkan bahwa kata tauhid secara bahasa adalah kata benda yang berasal dari perubahan kata kerja wahhada - yuwahhidu yang bermakna menunggalkan sesuatu. Sedangkan dalam kacamata syari’at, tauhid bermakna mengesakan Allah dalam hal-hal yang menjadi kekhususan diri-Nya. Kekhususan itu meliputi perkara rububiyah, uluhiyah dan asma’ wa shifat (Al Qaul Al Mufid, 1/5)
Syaikh Hamad bin ‘Atiq menerangkan bahwa agama Islam disebut sebagai agama tauhid disebabkan agama ini dibangun di atas pondasi pengakuan bahwa Allah adalah Esa dan tiada sekutu bagi-Nya, baik dalam hal kekuasaan maupun tindakan-tindakan. Allah Maha Esa dalam hal Dzat dan sifat-sifat-Nya, tiada sesuatu pun yang menyerupai diri-Nya. Allah Maha Esa dalam urusan peribadatan, tidak ada yang berhak dijadikan sekutu dan tandingan bagi-Nya. Tauhid yang diserukan oleh para Nabi dan Rasul telah mencakup ketiga macam tauhid ini (rububiyah, uluhiyah dan asma’ wa shifat). Setiap jenis tauhid adalah bagian yang tidak bisa dilepaskan dari jenis tauhid yang lainnya. Oleh karena itu, barangsiapa yang mewujudkan salah satu jenis tauhid saja tanpa disertai dengan jenis tauhid lainnya maka hal itu tidak mungkin terjadi kecuali disebabkan dia tidak melaksanakan tauhid dengan sempurna sebagaimana yang dituntut oleh agama (Ibthal At Tandid, hal. 5-6)

Syaikh Muhammad bin Abdullah Al Habdan menjelaskan bahwa tauhid itu hanya akan terwujud dengan memadukan antara kedua pilar ajaran tauhid yaitu penolakan (nafi) dan penetapan (itsbat). ‘La ilaha’ adalah penafian/penolakan, maksudnya kita menolak segala sesembahan selain Allah. Sedangkan ‘illallah’ adalah itsbat/penetapan, maksudnya kita menetapkan bahwa Allah saja yang berhak disembah (At Taudhihat Al-Kasyifat, hal. 49)

Tauhid dan Iman Kepada Allah

Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan –hafizhahullah- menjelaskan bahwa hakekat iman kepada Allah adalah tauhid itu sendiri. Sehingga iman kepada Allah itu mencakup ketiga macam tauhi yaitu tauhid rububiyah, uluhiyah, dan asma’ wa shifat (Al Irsyad ila Shahih Al I’tiqad, hal. 29). Di samping itu, keimanan seseorang kepada Allah tidak akan dianggap benar kalau hanya terkait dengan tauhid rububiyah saja dan tidak menyertakan tauhid uluhiyah. Hal ini sebagaimana yang terjadi pada kaum musyrikin dahulu yang juga mengakui tauhid rububiyah. Meskipun demikian, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap memerangi dan mengajak mereka untuk bertauhid. Hal itu dikarenakan mereka tidak mau melaksanakan tauhid uluhiyah.

Urgensi Tauhid Bagi Setiap Insan

Kepentingan manusia untuk bertauhid sungguh jauh berada di atas kepentingan mereka terhadap makanan, minuman atau tempat tinggal. Kalau seseorang tidak makan atau minum, akibat terburuk yang dialami hanyalah sekedar kematian. Namun, kalau seseorang tidak bertauhid barang sekejap saja dan pada saat itu dia meninggal dalam keadaan musyrik, maka siksaan yang kekal di neraka sudah siap menantinya.

Allah ta’ala berfirman,

إِنَّه ُمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ

“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan sesuatu dengan Allah (dalam beribadah) maka sungguh Allah telah mengharamkan atasnya surga, dan tempat tinggalnya adalah neraka…” (QS. al-Ma’idah [5]: 72)

Bahkan amalnya yang bertumpuk-tumpuk selama hidup pun akan menjadi sia-sia apabila di akhir hidupnya dia telah berbuat syirik kepada Rabb-nya dan belum bertaubat darinya. Allah ta’ala berfirman,

لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Sungguh, jika kamu berbuat syirik, akan lenyaplah semua amalmu, dan kamu pasti akan tergolong orang yang merugi.” (QS. az-Zumar [39]: 65)

Dan, kalaulah kita mau merenungkan untuk apa kita diciptakan di alam dunia ini niscaya kita akan memahami betapa agung kedudukan tauhid dalam hidup ini. Allah ta’ala berfirman,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. adz-Dzariyat [51]: 56). Makna beribadah kepada Allah di sini adalah mentauhidkan Allah.

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab –rahimahullah- mengatakan, “Apabila engkau telah mengetahui bahwasanya Allah menciptakan dirimu untuk beribadah, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya ibadah tidak akan disebut sebagai ibadah (yang hakiki) apabila tanpa disertai tauhid. Sebagaimana halnya sholat tidak disebut sebagai sholat jika tidak disertai dengan thaharah (bersuci). Maka apabila syirik merasuk ke dalam suatu ibadah, niscaya ibadah itu menjadi batal. Sebagaimana hadats jika terjadi pada (orang yang sudah melakukan) thaharah…” (Majmu’ah Tauhid, hal. 7)

Terkait dengan pentingnya tauhid ini, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Ketahuilah, sesungguhnya kebutuhan hamba untuk senantiasa beribadah kepada Allah tanpa mempersekutukan sesuatupun dengan-Nya merupakan kebutuhan yang tak tertandingi oleh apapun yang bisa dianalogikan dengannya. Akan tetapi, dari sebagian sisi ia bisa diserupakan dengan kebutuhan tubuh terhadap makanan dan minuman. Di antara keduanya sebenarnya terdapat banyak sekali perbedaan. Karena sesungguhnya jati diri seorang hamba adalah pada hati dan ruhnya. Padahal, tidak ada kebaikan hati dan ruh kecuali dengan (pertolongan) Rabbnya, yang tiada ilah (sesembahan) yang benar untuk disembah selain Dia. Sehingga ia tidak akan bisa merasakan ketenangan kecuali dengan mengingat-Nya. Seandainya seorang hamba bisa memperoleh kelezatan dan kesenangan dengan selain Allah maka hal itu tidak akan terus menerus terasa. Akan tetapi, ia akan berpindah dari satu jenis ke jenis yang lain, dari satu individu ke individu yang lain. Adapun Rabbnya, maka dia pasti membutuhkan-Nya dalam setiap keadaan dan di setiap waktu. Di mana pun dia berada maka Dia (Allah) senantiasa menyertainya.” (Majmu’ Fatawa, I/24. Dikutip dengan perantara Kitab Tauhid Syaikh Shalih al-Fauzan, hal. 43)

Siapa yang merasa tauhidnya sudah hebat?!

Allah ta’ala mengisahkan do’a yang dipanjatkan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihis salam di dalam ayat-Nya

وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ

“Dan jauhkanlah aku dan anak keturunanku dari penyembahan kepada arca-arca.” (QS. Ibrahim [14]: 35)

Ibrahim At Taimi mengatakan, “Lalu siapakah yang lebih merasa aman dari bencana kesyirikan selain Ibrahim[?]”

Syaikh Abdurrahman bin Hasan –rahimahullah- mengatakan, “Tidak ada lagi yang merasa aman dari terjatuh dalam kesyirikan selain orang yang bodoh terhadap syirik dan juga tidak memahami sebab-sebab yang bisa menyelamatkan diri darinya; yaitu ilmu tentang Allah, ilmu tentang ajaran Rasul-Nya yaitu mentauhidkan-Nya serta larangan dari perbuatan syirik terhadapnya.” (Fathul Majid, hal. 72)

Demikianlah sekilas mengenai pentingnya tauhid dalam kehidupan kita. Semoga kita tergolong hamba-hamba yang mentauhidkan Allah dengan sebenar-benarnya. Kalau orang semulia Nabi Ibrahim ‘alaihis salam saja masih takut terjerumus syirik, lalu bagaimana lagi dengan orang seperti kita. Wallahul musta’an. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

Selesai disusun ulang di Yogyakarta,
Senin 8 Jumadil Ula 1430 H
Hamba yang fakir kepada Rabbnya

Abu Mushlih Ari Wahyudi
Semoga Allah mengampuninya,
kedua orang tuanya dan kaum muslimin semua

***

Sumber: Artikel www.muslim.or.id

By: Latifatul Khasanah





Minggu, 23 Mei 2010

Bayang-bayang Nabi



Ya Rasulullah, apa yang harus dilakukan para pemimpin ?
"Membela yang lemah dan membantu yang miskin" jawab Nabi.

Ya Rasulullah, apa yang harus dilakukan ulama ?
Memberi contoh yang baik dan mendukung pemimpin
YAng membela orang - arang lemah" jawabnya

Ya Rasulullah ... apa yang harus dilakukan orang-orang lemah dan miskin ?
"Bersabarlah, dan tetplah bersabar
Jangan kau lihat pemimpinmu yang suka harta
Jangan kau ikuti ulamamu yang mendekati mereka
Jangan kau temani orang-orang yang menjilat mereka
Jangan kau lepaskan pandanganmu dari para pemimpin dan ulama yang hidupnya juhud dari harta"

Ya RAsulullah... Pemimpin seperti itu sudah tidak ada
Ulama seperti itu sudah menghilang entah kemana
Yang tersisa adalah pemimpin serakah
Yang tertinggal adalah ulama-ulama yang tama'
Banyak rakyat yang mengikuti keserakahan mereka
Ummat banyak yang meneladani ketamakan mereka !
Apa yang harus aku lakukan, Ya... RAsulullah !
Siapa yang harus aku angkat jadi pemimpin ?
Siapa yang harus aku ikuti fatwa-fatwanya ?
Siapa yang harus aku jadikan teman setia ?

"Wahai ummatku...
Tinggalkan mereka semua
Dunia tidak akan bertambah baik sebab mereka
Bertemanlah dengan anak dan istrimu saja
Karena Allah menganjurkan, "Wa 'asiruhunna bil ma'ruf"
Ikutilah fatwa hatimu
Karena hadits mengatakan, "Istafti qalbaka, wa in aftaukan nas waftauka waftauka"
Dan angkatlah dirimu menjadi pemimpin
Bukankah, "Kullulkum Ra'in, ea kullukum masulun 'an ra'iyyatihi ?"

islam kudu bangkit

Pada suatu ketika Rasulullah SAW pernah mengeluarkan pernyataan yang bernada ramalan. Beliau bersabda: “Akan datang suatu masa ketika kamu sekalian (umat Islam) akan dikerumuni oleh umat-umat lain, bagaikan orang-orang yang sedang kelaparan mengerumuni makanan yang lezat”. Para sahabat bertanya: “Ya Rasulullah! apakah waktu itu umat Islam termasuk kelompok minoritas?”, Rasul menjawab: “Sama sekali tidak! bahkan pada waktu itu kalian termasuk kelompok mayoritas, hanya saja kalian tak ubahnya seperti buih yang diombang-ambingkan ombak”. Kemudian Rasul menjawab lebih lanjut: “Hal itu terjadi karena kamu termasuk kelompok mayoritas, tetapi Allah telah mencopot kewibaan kalian di mata musuh-musuh kalian, dan telah bercokol di hati kalian penyakit al wahnu. “Apakah penyakit wahnu itu ya Rasulullah ?” tanya sahabat. Jawab Rasul “al-wahnu adalah penyakit cinta dunia dan takut mati”.


Pernyataan Rasulullah ini adalah pewartaan bahwa hal itu mungkin terjadi, atau mungkin hanya sebagai peringatan kepada kita umat Islam agar hal itu jangan sampai terjadi. Namun kalau kita saksikan dewasa ini yang terjadi terhadap kehidupan umat Islam, bahwa apa yang “diramalkan” Rasulillah SAW tersebut sudah menjadi gejala bahkan kenyataan.

Menurut statistik Rabithah al ‘alam al-Islami (Liga Islam Dunia) secara global pemeluk Islam di dunia sekarang ini sekitar 1,3 milyard. Islam agama terbesar di dunia ini semenjak agama Katolik dan Protestan berpisah, maka masing-masing mencapai 1,2 milyard. Dan ada gejala peningkatan yang cukup signifikan bahwa Islam semakin diminati di negara-negara yang mayoritas bukan Islam, seperti Amerika, Eropa dan Australia.

Sedangkan di Indonesia, menurut sensus tahun 2000 menunjukkan ada sekitar 88,2 % pemeluk Islam dari sekitar 230 juta penduduk. Jadi, ada sekitar 190 juta muslim di negeri yang kita cintai ini. Tentu saja hal itu patut kita banggakan dan harus kita syukuri. Namun kalau kita melakukan muhasabah (perenungan/ introspeksi), melakukan mawas diri dan evaluasi, maka jumlah yang besar itu belum disertai dengan mutu dan kualitas yang besar pula. Kita masih memiliki kebesaran secara kuantitatif (besar dalam jumlah dan bilangan), belum memiliki kebesaran kualitatif (hebat dalam mutu dan kualitas).

Memang secara global pemeluk Islam hampir seperempat penduduk dunia, tetapi sumbangan dunia Islam terhadap perekonomian global hanyalah 5%. Dunia Islam yang memiliki sumber daya alam yang sangat kaya raya, tetapi belum memiliki pusat-pusat unggulan, belum memiliki cendekiawan atau ilmuwan sejati untuk mendorong kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Yang terjadi justru sebaliknya, dunia Islam masih diliputi fenomena kemiskinan, kebodohan,dan keterbelakangan. Dalam dunia Islam sekarang berada dalam keterpurukan ketika tidak berdaya menghadapi hegemoni (cengkraman) dari negara adikuasa yang merajalela. Tidak hanya dalam bidang ekonomi, tetapi juga dalam bidang politik dan militer. Inilah yang kita hadapi dewasa ini.

Begitu pula di Indonesia, umat Islam memang besar dan telah berperan besar dalam sejarah, terutama pada fase menjelang kemerdekaan. Umat Islam menjadi faktor penentu kemerdekaan, umat Islam menjadi tulang punggung perjuangan dalam menegakkan kemerdekaan. Tetapi sekarang kalau kita masih membuka diri dan melihat kenyataan, maka umat Islam masih diliputi oleh masalah-masalah internal, kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan termasuk juga masalah kesulitan untuk bersatu. 3K plus 1K (kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan termasuk juga masalah kesulitan untuk bersatu) ini menjadi fenomena umum di Indonesia. Sekarang yang penting adalah apa yang harus kita lakukan ke depan dan bagaimana kita mengembangkan diri kita. Itulah agenda utama umat Islam.

Untuk itu, tiada jalan lain kecuali harus bangkit, memperkuat barisan, melakukan konsolidasi diri terhadap tantangan dan ancaman yang ada di depan mata. Kita tidak boleh menghadapi semua itu dengan kesedihan dan kehilangan kepercayaan diri. Allah SWT manyatakan dalam Al Quran surat Ali Imran 139: “Kamu wahai semua umat Islam jangan bersedih hati jangan kehilangan kepercayaan diri, karena sungguh kamu adalah umat pilihan yang memiliki kekuatan dan kelebihan jika kamu semua menjadi orang-orang yang beriman”. Inilah bekal dari Al Quran agar umat Islam jangan kehilangan kepercayaan diri. Jangan berlarut-larut dalam duka dan nestapa, jangan berlarut-larut dalam kesedihan. Apalagi sampai kita dihinggapi oleh penyakit takut mati dan penyakit cinta dunia, yang kemudian kita berlomba-lomba dalam mencari dunia berlomba-lomba dalam mencari kemewahan dalam kehidupan duniawi ini, tetapi kita melupakan akhirat.

Dan mari kita jawab panggilan Allah dalam Al Quran surat Al Anfal 60 yang maknanya: “Persiapkanlah segala daya, persiapkanlah segala upaya, rancang strategi, rapatkan barisan, untuk menghadapi segala tantangan yang ada di hadapan kita.”. Kita harus melakukan langkah-langkah kongkrit, harus melakukan langkah-langkah nyata, harus mempersiapkan diri dengan strategi perjuangan yang jelas dan jitu.

Selama ini umat Islam Indonesia terkesan lebih menampilkan strategi menghadapi aneka tantangan dan ancaman serta masalah yang ada dengan strategi melawan dan melawan, dengan “al jihad lil mu’aaradhah” (bangkit dan tampil dengan emosi dan amarah) terhadap segala yang mengancam. Tentu saja jihad semacam ini tentu tidak memecahkan maslah, tidak bisa memotong akar masalah, karena masalah dan ancaman akan semakin menjadi. Maka kita harus mengubah strategi itu menjadi strategi menghadapi dengan “aljihad lil muwajahah”. Kita menghadapi tantangan, masalah dan ancaman dengan langkah-langkah yang nyata. Agar umat Islam siap bersanding dan bertanding dengan kelompok-kelompok lain yang ada, baik di Indonesia maupun di dunia.

Oleh karena itu, secara lebih konkrit dan lebih operasional, ada dua bidang garapan yang harus mendapatkan perhatian serius dari umat Islam Indonesia. Pertama, kita perlu membangkitkan diri di bidang pendidikan, karena kata kunci untuk masa depan adalah kualitas sumber daya manusia. Adanya sumber daya manusia yang berkualitas, akan terwujud, jika kita memajukan pendidikan. Maka lembaga-lembaga pendidikan di lingkungan umat Islam maupun organisasi-organisasi umat Islam, perlu melakukan reformasi, modernisasi, dan revitalisasi untuk melahirkan sumber daya manusia yang berkualitas.

Keluarga muslim perlu melakukan langkah-langkah yang kongkrit, mendorong putra-putri mereka agar berprestasi dalam bidang pendidikan, merebut keunggulan dan kejayaan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Seperti tausiyah Imam Syafi’i yang maknanya: “Barang siapa yang menginginkan kejayaan di dunia maka harus dengan ilmu, dan barang siapa yang ingin kejayaan di akhirat harus menguasai ilmu, dan barang siapa menginginkan kejayaan keduanya, juga harus dengan ilmu”.

Kedua, umat Islam harus mengembangkan ekonomi, memberdayakan diri dalam taraf kehidupan. Karena selain pendidikan, kekuatan dalam bidang ekonomi inilah yang akan membawa munculnya sumber daya manusia yang berkualitas, membawa dan mendorong adanya kualitas umat Islam. Maka perekonomian umat Islam, secara individu, warga, kelompok, atau organisasi harus mendapat perhatian. Islam masuk ke nusantara lewat jalur perdagangan dan ekonomi yang dibawa oleh mubaligh-mubaligh yang juga pedagang. Sehingga dulu kira pernah memiliki kantong-kantong perekonomian umat. Cukup banyak wiraswastawan dan pedagang-pedagang muslim. Merekalah yang kemudian memberi dukungan kepada gerakan dakwah Islamiyah, dan itulah yang membawa kemajuan umat Islam. Sekarang harus kita rebut, tentu dengan menghadapi tantangan ekonomi kapitalistik, karena Indonesia sebagai warga dunia juga membuka pintu bagi ekonomi kapitalis itu. Oleh karenanya, pemerintah dan rakyat Indonesia perlu menyadari betapa pentingnya ekonomi kerakyatan dan betapa pentingnya umat Islam berlomba-lomba dalam mencari rizki yang telah disediakan oleh Allah sehingga memiliki kekuatan ekonomi.

Paling tidak dua pendekatan operasional inilah di samping pendekatan- pendekatan lain dalam kerangka berjuang, dengan strategi utama “aljihad lilmuwajahah”. Kalau secara kongkrit kita wujudkan dalam berbagai bidang, khususnya pendidikan dan ekonomi tadi, maka insya Allah kebangkian dan kemajuan umat Islam akan terwujud. Dan janagan dilupakan, hal ini perlu disertai adanya persatuan, kesatuan dan kebersamaan umat Islam. Tanpa hal-hal tersebut dari seluruh komponen Islam, langkah-langkah strategis dan program operasional tadi tidak dapat kita wujudkan.

Maka, yang paling penting adalah adanya kebersamaan, ukhuwah Islamiyah yang selama ini nyaris hanya menjadi mitos, mudah diucapkan, tetapi sulit untuk kita terapkan. Mari perselisihan, pertentangan, bahkan konflik-konflik di tubuh umat Islam kita hindari. Pertentangan dan konflik kita jadikan masa lalu yang tidak perlu terulang kembali. Walaupun umat Islam berbeda organisasi, berbeda paham keagamaan, berbeda aspirasi politik, berbeda orientasi ekonomi, politik, sosial, dan sebagainya, tapi itu semua jangan menjadi faktor penghambat untuk membangun ukhuwah Islamiyah. Dengan kesadaran semacam ini, dengan persatuan dan kesatuan serta kebersamaan seperti ini Insya Allah umat Islam dapat menggalang kekuatan untuk memajukan ekonomi, pendidikan, dan akan mampu menghadapi tantangan masa depan. Apa yang “diramalkan” Rasulullah SAW kita pahami sebagai peringatan dan pelajaran agar tidak terjadi dan jangan pernah terjadi.

Mari kita bangkit dan kita jadikan Islam dan umat Islam sebagai faktor penentu Indonesia. Sebagai faktor determinan Indonesia, yang menentukan masa depan Indonesia. Bahwa maju mundurnya Indonesia harus ditentukan oleh maju mundurnya Islam dan umat Islam. Kalau umat Islam maju, maka Indonesia akan maju. Sebaliknya, kalau sekarang Indonesia belum maju dan masih terpuruk dengan berbagai masalah dengan multi krisis, tidak hanya dalam bidang politik, hukum bahkan dalam budaya dan moral, itu pertanda umat Islam belum mampu menjadi faktor penentu Indonesia. Kita umat Islam belum menjadi faktor perubahan terhadap Indonesia. Inilah yang harus kita lakukan secara bersama-sama pada masa yang akan datang.